
Strategi menentukan harga jual kue menjadi salah satu tantangan utama bagi pelaku usaha bakery, baik skala rumahan, UMKM, maupun bisnis menengah. Memasuki tahun 2026, persaingan bisnis kue dan roti semakin ketat, sementara biaya bahan baku juga cenderung fluktuatif.
Harga jual yang terlalu tinggi bisa membuat calon konsumen ragu membeli, sementara harga yang terlalu rendah justru berisiko menekan keuntungan. Karena itu, menentukan harga jual kue tidak bisa lagi sekadar menutup biaya produksi atau mengikuti harga pasar. Diperlukan strategi yang tepat agar harga produk tetap kompetitif, mudah diterima konsumen, dan tetap menguntungkan dalam jangka panjang.
Dalam praktiknya, banyak pelaku usaha memulai penentuan harga jual kue dari perhitungan biaya produksi, lalu menambahkan margin keuntungan. Cara ini memang penting sebagai dasar, namun seringkali belum cukup untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Keputusan konsumen membeli kue juga dipengaruhi oleh faktor lain di luar harga, seperti rasa, tekstur, tampilan, serta konsistensi kualitas produk. Inilah mengapa strategi menentukan harga jual kue perlu mempertimbangkan nilai produk yang ditawarkan, selain biaya produksi.
Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Menentukan Harga Jual Kue
Dalam menentukan harga jual kue, ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan agar harga yang ditetapkan sesuai dengan target pasar dan mampu menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
Agar harga jual dapat ditetapkan dengan lebih optimal, pelaku usaha perlu meningkatkan nilai produk. Beberapa strategi berikut bisa diterapkan:
Bahan baku berperan besar dalam menentukan kualitas akhir kue. Rasa yang stabil, tekstur yang seragam, dan aroma yang konsisten akan membangun kepercayaan konsumen. Dengan kualitas yang sepadan, harga jual produk yang lebih tinggi cenderung lebih mudah diterima oleh konsumen. Selain itu, bahan baku dengan performa stabil juga membantu mengurangi risiko gagal produksi sehingga biaya lebih terkontrol.
Strategi paket penjualan bisa membantu meningkatkan nilai transaksi tanpa harus menaikkan harga satuan produk. Contohnya dengan menawarkan paket bundling beberapa varian kue, atau paket hampers untuk momen spesial. Pendekatan ini memberikan nilai tambah bagi konsumen, sekaligus membantu pelaku usaha meningkatkan total penjualan dalam satu transaksi.
Kemasan sering menjadi kesan pertama yang dilihat konsumen. Tampilan kemasan yang rapi dan menarik dapat meningkatkan persepsi nilai produk. Bahkan untuk produk yang sama, kemasan yang lebih premium dapat membuat konsumen bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi, terutama pada momen-momen tertentu.
Memahami segmentasi pasar akan membantu pelaku usaha menetapkan harga yang lebih fleksibel dan tepat sasaran. Tidak semua konsumen memiliki daya beli yang sama, sehingga membagi produk menjadi kategori reguler dan premium bisa menjadi solusi.
Produk reguler umumnya ditujukan untuk volume penjualan yang lebih tinggi dengan margin yang stabil. Sementara itu, produk premium bisa menawarkan keunikan dari sisi rasa, bahan baku, atau tampilan yang lebih eksklusif, sehingga bisa dijual dengan margin lebih tinggi. Dengan cara ini, Anda bisa menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus menjaga profit bisnis.
Promo bisa digunakan untuk menjaga ketertarikan konsumen, namun perlu direncanakan dengan matang. Jika terlalu sering justru membuat konsumen terbiasa membeli dengan harga diskon dan sulit menerima harga normal. Sebagai alternatif, promo dapat dikemas dalam bentuk bonus produk, produk seasonal, atau penawaran khusus di momen tertentu agar tetap menarik tanpa menurunkan nilai produk.
Strategi Menentukan Harga Jual Kue yang Tepat
Setelah memahami faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual kue, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam strategi praktis, sebagai berikut:
Daripada langsung menetapkan satu harga jual, sebaiknya pelaku usaha menentukan rentang harga yang masih aman secara margin. Rentang ini memberi fleksibilitas untuk kebutuhan seperti promo terbatas atau perubahan biaya produksi. Dengan adanya batas bawah dan batas atas, harga tidak perlu sering diubah dan tetap terasa konsisten bagi konsumen.
Cara menampilkan angka harga juga dapat mempengaruhi persepsi konsumen. Penggunaan harga psikologis dengan angka tidak bulat misalnya Rp 19.900 dibanding Rp 20.000 dapat menciptakan kesan lebih terjangkau, meskipun perbedaannya kecil. Strategi ini umumnya lebih cocok diterapkan pada produk reguler atau kue yang dibeli harian. Sebaliknya, untuk produk premium atau hampers eksklusif, penggunaan harga dengan angka bulat terasa lebih rapi dan profesional. Karena itu, penerapan harga psikologis perlu disesuaikan dengan jenis produk dan target pasar.
Tidak semua kue harus dijual dengan strategi harga yang sama. Produk utama atau produk andalan sebaiknya memiliki harga yang relatif stabil karena menjadi representasi bisnis di mata konsumen. Sementara, produk pendukung seperti produk seasonal, edisi terbatas, atau kreasi khusus dapat diberi harga yang lebih fleksibel.
Jika penyesuaian harga tidak dapat dihindari, sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan penolakan dari konsumen. Kenaikan harga dapat diimbangi dengan peningkatan kualitas, penyesuaian ukuran, atau pembaruan kemasan. Pendekatan ini membantu konsumen menerima perubahan karena mereka merasakan adanya nilai tambah.
Menetapkan harga jual kue tentu bukan keputusan sekali jadi. Pelaku usaha perlu melakukan evaluasi harga secara berkala, misalnya setiap tiga hingga enam bulan, untuk memastikan apakah harga masih relevan dengan biaya produksi dan kondisi pasar. Dengan evaluasi rutin, potensi penurunan margin bisa terdeteksi lebih cepat sehingga penyesuaian dapat dilakukan sebelum menghambat keberlangsungan bisnis.
Kenyataannya, strategi menentukan harga jual kue tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha bakery adalah fluktuasi harga bahan baku, seperti telur, gula, dan bahan pendukung lainnya. Kenaikan ini seringkali mempengaruhi perhitungan biaya produksi.
Banyak pelaku usaha memilih mempertahankan harga demi menjaga konsumen. Namun, jika dilakukan terus-menerus, margin keuntungan jadi semakin tipis dan bisa menghambat perkembangan bisnis. Dalam kondisi seperti ini, penting bagi pelaku usaha untuk meminimalkan risiko dari sisi produksi agar harga jual tidak perlu sering berubah.
Peran Produk FILMA® dalam Mendukung Konsistensi dan Efisiensi
Salah satu cara menyiasati fluktuasi biaya bahan baku adalah dengan menjaga hasil produksi tetap konsisten. Produk margarin dan shortening dari FILMA® dirancang untuk mendukung proses produksi yang stabil, sehingga kue yang dihasilkan memiliki rasa dan tekstur yang seragam, termasuk saat diproduksi dalam jumlah besar.
Dengan hasil produksi yang lebih konsisten, pelaku usaha dapat mengurangi risiko gagal produksi, menghitung biaya dengan lebih presisi, serta menjaga harga jual kue tetap stabil meskipun kondisi biaya bahan baku lainnya berubah.
Informasi lengkap mengenai rangkaian produk margarin dan shortening dari FILMA® dapat diakses melalui e-catalog.
Dengan meningkatkan nilai jual produk, menyesuaikan harga sesuai segmen pasar, serta menjaga kualitas menggunakan bahan baku yang konsisten seperti FILMA®, bisnis kue Anda akan lebih siap menghadapi persaingan. Harga yang tepat akan membuat bisnis bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Dapatkan berbagai info seputar tren bakery, resep, dan aplikasi produk di WhatsApp Channel SMART Food Solutions. Jangan lupa follow agar tidak ketinggalan updatenya!
