
Perkembangan tren bakery global terus menghadirkan beragam inspirasi produk, mulai dari inovasi bentuk, tekstur, hingga kombinasi rasa yang semakin kompleks. Di berbagai negara, tren bakery tidak hanya bergerak pada aspek visual, tetapi juga menyentuh eksplorasi tekstur, teknik produksi, hingga penggunaan bahan baku yang semakin presisi.
Namun, dalam praktiknya, tidak semua tren tersebut dapat diterapkan secara langsung ke pasar domestik. Dibutuhkan proses adaptasi agar produk yang terinspirasi dari tren global tetap relevan dengan preferensi, kebiasaan konsumsi, serta karakter konsumen lokal. Adaptasi inilah yang menjadi kunci agar tren tidak berhenti sebagai sekadar inspirasi, tetapi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi produk yang laku di pasar.
Menurut Chef Galih Gumilar, jenis produk yang memiliki potensi kuat dan relatif tahan lama di pasar lokal umumnya adalah produk-produk yang sudah akrab dijumpai di berbagai kota. Untuk kategori cake, contoh yang konsisten diminati antara lain bolu gulung, slice cake, serta bolu tulban atau marble cake. Produk-produk ini dinilai memiliki karakter yang fleksibel untuk dikembangkan dari sisi rasa, tampilan, maupun konsep, tanpa meninggalkan bentuk dasarnya yang sudah dikenal luas.
Untuk kategori roti, roti manis dengan beragam varian rasa, topping, serta bentuk unik masih menjadi pilihan utama masyarakat. Bahkan di beberapa kota, roti manis memiliki fungsi sosial tertentu, misalnya dijadikan sebagai hantaran dalam berbagai acara. Hal ini menunjukkan bahwa roti bukan hanya diposisikan sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari budaya konsumsi.
Sementara itu, pada kategori pastry, produk seperti croissant dan danish semakin banyak digemari konsumen lokal. Daya tarik utamanya terletak pada kombinasi tekstur luar yang flaky dan bagian dalam yang lembut, serta rasa yang berbeda dibandingkan pastry tradisional lokal, namun tetap mudah diterima sebagai camilan.
Pendekatan Adaptasi Tren agar Selaras dengan Selera Lokal
Dalam mengadaptasi tren bakery global, Chef Galih menekankan pentingnya memahami karakter dasar yang disukai konsumen lokal terlebih dahulu. Roti dan cake masih menjadi menu yang paling banyak diminati karena hampir selalu menjadi tolak ukur utama dalam sebuah industri bakery. Di manapun sebuah bakery berdiri, keberadaan roti dan cake hampir selalu menjadi fondasi menu.
Selain dikonsumsi untuk kebutuhan pribadi, jenis cake dan roti juga banyak digunakan sebagai hadiah atau hantaran, sehingga faktor tampilan, kerapian bentuk, serta konsistensi kualitas menjadi sangat penting.
Agar tetap relevan, inovasi pada roti dan cake perlu mengikuti perkembangan zaman, baik dari sisi tampilan, variasi rasa, maupun konsep penyajian. Namun, satu aspek yang tidak boleh diabaikan adalah tekstur. Konsumen lokal cenderung lebih menyukai roti dan cake dengan karakter lembut. Oleh karena itu, meskipun sebuah produk terinspirasi dari tren global, karakter kelembutan tetap perlu dijadikan sebagai fondasi utama.
Contoh Tren Bakery Global yang Diadaptasi ke Pasar Lokal
Beberapa contoh adaptasi tren global yang umum diterapkan di pasar lokal antara lain:
1. Croissant dan Danish dengan Isian Lokal
Secara global, croissant dan danish banyak dikembangkan dengan isian butter, almond, atau custard klasik. Di pasar lokal, tren ini sering diadaptasi dengan menambahkan isian yang lebih familiar, seperti cokelat, keju, atau kombinasi cokelat-keju. Pendekatan ini membuat produk tetap memiliki karakter pastry Eropa, namun rasanya lebih dekat dengan preferensi konsumen lokal.
2. Swiss Roll Cake menjadi Bolu Gulung Variatif
Swiss roll yang populer di berbagai negara diadaptasi menjadi bolu gulung dengan beragam varian rasa lokal, seperti pandan, cokelat, keju, atau kopi. Bentuk dasarnya tetap sama, tetapi profil rasanya disesuaikan dengan selera pasar domestik.
3. Sweet Bread dengan Bentuk Modern
Tren global mendorong eksplorasi bentuk roti yang lebih estetis dan playful. Di pasar lokal, hal ini diadaptasi menjadi roti manis dengan tampilan unik, namun tetap mempertahankan tekstur lembut dan rasa yang familiar.
Bagaimana Menjaga Otentisitas Produk di Tengah Inovasi?
Dalam proses modifikasi atau pengembangan produk, Chef Galih menyarankan agar baker tetap memahami profil rasa dari produk yang dibuat. Inovasi sebaiknya tidak sampai menghilangkan identitas keaslian produk tersebut.
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan antara lain:
- Memastikan proses pemanggangan mampu menjaga kelembutan serta kelembapan produk.
- Mengombinasikan bahan atau rasa baru dengan isian yang sudah akrab di lidah konsumen lokal, seperti keju dan cokelat.
Dengan cara ini, produk tetap terasa baru, namun tidak kehilangan karakter dasarnya.
Tantangan Produksi dan Peran Bahan Baku yang Tepat
Salah satu tantangan utama dalam mengadaptasi tren global ke produksi lokal adalah menjaga konsistensi kualitas, stabilitas produk, serta kesiapan sistem produksi untuk memenuhi ekspektasi pasar.
Penakaran resep yang presisi dan pemilihan bahan baku yang tepat menjadi faktor kunci. Chef Galih menyebutkan bahwa penggunaan produk FILMA® menjadi salah satu pilihan tepat untuk mendukung kestabilan kualitas produk. Selain itu, FILMA® juga memiliki lini produk yang luas dan dapat digunakan untuk berbagai kreasi produk bakery dan memudahkan dalam penyesuaian ke konsumen yang menyukai rasa lokal.
Seperti FILMA® Prestige (Butter Blend Margarine) yang dapat digunakan untuk berbagai kreasi roti dan kue, baik manis maupun gurih, serta FILMA® Puff Pastry yang dirancang untuk menghasilkan pastry dengan tekstur renyah dan kualitas premium. Selain itu, FILMA® juga memiliki beragam lini produk lainnya yang dapat dilihat secara lengkap melalui e-katalog.
Bagi pelaku usaha bakery yang ingin terus mengikuti perkembangan tren serta mendapatkan inspirasi produk dan insight bisnis secara rutin, Anda dapat bergabung melalui WhatsApp Channel SMART Food Solutions untuk memperoleh update terbaru secara langsung.
